Apakah Penyakit Anjing Dapat Menular Ke Manusia?

daftarhewan.com. Penyakit anjing menular ke manusia. Banyak alasan positif, kenapa orang-orang tertarik memelihara anjing. Hewan ini berpengaruh baik terhadap perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak-anak. Anjing juga bisa menjadi teman/sahabat, promotor gaya hidup aktif, pelindung, pendeteksi serangan epilepsi, detektor kanker tertentu, penghilang stres dan kecemasan. Mereka memiliki andil yang baik terhadap kesehatan fisik dan mental.

Meski demikian, anjing tidak tercipta tanpa risiko. Anda tetap harus mewaspadai semua trah anjing dari semua usia, khususnya puppy atau anak-anak anjing. Bagaimana pun, mereka bisa mendatangkan kuman berbahaya sebagai penyebab penyakit. Mulai dari infeksi kulit ringan sampai dengan penyakit yang berisiko serius.

Salah-satu cara untuk melindungi diri dari efek berbahaya anjing, yaitu dengan mencuci tangan setelah mengelus, memegang, memangku, memberi makan, atau memandikan anjing.

penyakit dari anjing ke manusia, penyakit kutu anjing pada manusia, penyakit anjing yang menular pada manusia, penyakit anjing yg menular ke manusia, penyakit yang ditularkan anjing ke manusia, penyakit anjing yang bisa menular ke manusia, apakah penyakit anjing dapat menular ke manusia, kesan penyakit anjing gila kepada manusia, penyakit anjing yang dapat menular pada manusia, apakah penyakit anjing dapat menular ke manusia

Penyakit anjing yang bisa menular pada manusia:

1. Brucellosis (Brucella spp.)

Penyakit bakteri ini terjadi akibat adanya kontak dengan hewan terinfeksi, atau bisa juga dari produk hewan yang sudah terkontaminasi, contohnya susu mentah. Orang juga bisa terkena penyakit Brucellosis ini karena sudah meminum atau memakan produk susu mentah yang belum dipasteurisasi. Hewan-hewan yang rentan terinfeksi adalah anjing, babi, sapi, domba, dan kambing.

Anjing yang terinfeksi rata-rata tidak menunjukkan gejala sakit. Namun mereka berisiko mengalami infeksi pada organ reproduksi, infertilitas, dan aborsi. Ada juga beberapa anjing yang mengalami peradangan mata, peradangan otak, dan infeksi tulang belakang serta cakram.

Ada pun Brucellosis pada manusia akan menyebabkan penderitanya sakit 6-8 minggu pasca terpapar. Gejalanya seperti flu dan bisa berlangsung 2-4 minggu. Kadang-kadang penyakit ini menjelma menjadi gangguan kronis yang sulit diobati. Efeknya juga bisa menjalar pada organ reproduksi dan bahkan keguguran.

2. Campylobacteriosis (Campylobacter spp.)

Penyakit ini muncul karena bakteri campylobacter. Biasanya tersebar ke hewan dan manusia melalui lingkungan, kotoran hewan yang terinfeksi, serta air atau makanan yang terkontaminasi. Manusia bisa terkena infeksi jika tidak segera mencuci tangan setelah menyentuh kotoran, mainan, makanan, habitat, dan hewannya itu sendiri.

Anjing yang terinfeksi bisa saja mengalami diare. Demikian juga jika terjadi pada manusia. Ditambah lagi dengan kram, demam, mual, dan muntah. Gejala ini biasanya berlangsung selama semingguan.

3. Capnocytophaga spp.

Ada bakteri bernama Capnocytophaga yang biasanya tinggal di dalam mulut kucing dan anjing. Namun bakteri ini biasanya tidak menumbangkan mereka dan penyebarannya ke manusia juga terbilang jarang/langka. Orang yang terinfeksi biasanya melalui goresan, gigitan, atau kontak dengan hewan yang terkena bakteri tersebut. Apalagi jika orang tersebut memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

Baca Juga:   10 Fakta Penting Tentang Siberian Husky

Ciri-ciri seseorang terkena penyakit ini yaitu bengkak, melepuh, nyeri, dan kemerahan di area gigitan. Tanda tersebut disertai dengan demam, sakit kepala, diare, muntah, nyeri sendiri dan nyeri otot. Meski jarang terjadi, namun komplikasi serius bisa saja  mengancam, termasuk gagal ginjal, infeksi darah (sepsis), dan gangren (banyak jaringan tubuh yang mati).

4. Cryptosporidiosis (Cryptosporidium spp.)

Penyakit parasit ini timbul karena kuman bernama Cryptosporidium alias Crypto. Kuman ini tersebar setelah menelan kotoran hewan atau manusia yang terinfeksi. Bisa juga melalui air, makanan, dan lingkungan yang terkontaminasi. Manusia yang terinfeksi memiliki ciri-ciri berupa diare yang berair, sakit perut, kram, mual, dan muntah. Biasanya gejala tersebut sembuh setelah 1-2 mingguan.

5. Tapeworm (Dipylidium caninum)

Tapeworm (Dipylidium caninum); “Cucumber Tapeworm”, “Flea Tapeworm”, atau “Double Pored Tapeworm”. Cacing pita ini tidak hanya menyusup ke anjing dan kucing, melainkan juga ke manusia. Penyebarannya melalui konsumsi kutu yang terinfeksi. Jika pada manusia, kasus kebanyakan terjadi pada anak-anak.

Parasit ini kerap menampakkan diri pada kotoran segar atau anus anjing. Mungkin saja anjing tersebut akan mengalami penurunan berat badan, menderita masalah pencernaan, atau seperti menggosok-gosokkan bagian bawahnya ke tanah seakan sedang meredakan iritasi.

6. Echinococcosis (Echinococcus spp.)

Penyakit parasit ini timbul karena infeksi cacing pita Echinococcosis. Larvanya bisa menjadi penyebab infeksi pada manusia, sehingga menimbulkan kista. Sedangkan pada anjing atau hewan peliharaan lain, biasanya cacing yang ditemukan sudah dewasa.

Anjing yang terinfeksi akan mengeluarkan kotoran yang penuh dengan telur Echinococcosis. Kemudian parasitnya menyebar jika orang-orang meminum air yang terkontaminasi dengan kotoran anjing tersebut. Bisa juga dengan menyentuh bulu yang terdapat telurnya. Kalau tidak, parasit tersebar ketika memakan kambing atau domba yang terinfeksi.

Anjing yang terinfeksi menunjukkan gejala nafsu makan yang bervariasi, mudah tersinggung, bulunya kusut, dan menderita diare ringan. Sedangkan pada manusia, akan ditunjukkan dengan adanya kista yang menyerang organ tubuh, biasanya paru-paru dan hati.

7. Giardiasis (Giardia duodenalis)

Parasit ini terdapat pada makanan, air, atau tanah yang terkontaminasi dengan kotoran hewan atau orang yang terinfeksi. Orang-orang yang berisiko terinfeksi yaitu mereka yang meminum air sembarangan di danau, mata air, atau sungai. Para pelancong dan orang-orang yang melakukan kontak dengan popok pun cenderung riskan.

Anjing yang terinfeksi akan mengalami dehidrasi, diare, dan tinjangnya berminyak. Sedangkan manusia yang terinfeksi biasanya mengeluh diare, mual, muntah, rasa tidak nyaman pada perut, dan gas.

8. Hookworm

Hookworm (Ancylostoma caninum, Uncinaria stenocephala, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum). Cacing tambang memang mungil, namun bisa memberi dampak besar. Apalagi jika sudah tersebar via kontak dengan pasir atau tanah yang terkontaminasi. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki, duduk tanpa alas, atau berlutut langsung pada tanah/pasir yang terkontaminasi.

Anjing yang terkena cacing ini biasanya memiliki berat badan yang menurun, tinjanya berdarah dan gelap, serta anemia. Bahkan cacing ini bisa menyebabkan kematian pada anak anjing. Sedangkan pada manusia, cacing ini bisa menimbulkan reaksi gatal dan gurat yang menandakan adanya migrasi larva parasit di bawah kulit. Dalam kasus tertentu yang cukup jarang, cacing ini bisa bermigrasi ke usus dan mengakibatkan radang usus.

Baca Juga:   5 Jenis Anjing Kecil yang Tidak Tumbuh Besar

9. Leptospirosis (Leptospira spp.)

Bakteri ini bisa menyerang hewan dan manusia. Anjing sendiri sebenarnya bisa divaksinasi agar terlindung dari jenis-jenis leptospirosis tertentu. Penyebarannya melalui urin yang terinfeksi, yang kemudian mengendap pada tanah atau air. Hewan lain yang bisa menjadi dalang di balik penyebaran bakteri ini yaitu anjing, babi, sapi, tikus, kuda, dan hewan liar lainnya.

Anjing yang terkena bakteri ini mungkin saja mengalami demam, muntah, kelelahan, tidak nafsu makan, diare, matanya merah, penyakit kuning, dan ada masalah dalam sistem buang air kecilnya. Jika akibatnya sudah parah, anjing tersebut bisa mengalami gagal hati, gagal ginjal, pendarahan paru-paru, bahkan meninggal.

Manusia yang terinfeksi juga biasanya menderita demam tinggi, sakit otot, sakit kepala, sakit kuning, muntah, sakit perut, mata merah, ruam, dan diare. Ada yang sampai parah, sehingga menderita gagal ginjal, gagal hati, pneumonia hemoragik, dan kematian. Perlu perawatan cepat dan tepat.

10. MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)

Bakteri Staphylococcus aureus ini sudah lumrah menjangkiti kulit hewan dan manusia. Mereka bahkan dikenal kebal terhadap beberapa antibiotik. Sedangkan infeksi yang ditimbulkan bisa jadi infeksi kulit dan infeksi paru-paru (pneumonia). Penyebarannya melalui kontak langsung atau sentuhan.

Anjing yang terinfeksi biasanya menderita infeksi kulit, saluran kemih, dan pernapasan. Sedangkan pada manusia, jenis infeksi paling umum biasanya menyerang kulit. Jika diabadikan, MRSA bisa saja merambat ke aliran darah dan paru-paru, bahkan bisa sampai mengancam nyawa penderitanya.

11. Plague (Yersinia pestis)

Yersinia pestis menjadi dalang di balik wabah penyakit ini. Infeksinya tersebar lewat gigitan kutu atau sentuhan pada hewan yang terinfeksi. Bahkan manusia juga bisa terkena infeksi jika menghirup tetesan dari anjing terinfeksi yang sedang batuk.

Anjing yang terkena wabah ini biasanya mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, energinya rendah, nafsu makannya berkruang, diare, dan muntah. Demikian juga yang terjadi pada manusia. Bahkan bisa ditambah dengan sakit kepala, menggigil, demam, dan tampak sangat lemah.

12. Rabies

penyakit anjing menular ke manusia, penyakit anjing yang menular ke manusia, penyakit dari anjing ke manusia, penyakit kutu anjing pada manusia, penyakit anjing yang menular pada manusia, penyakit anjing yg menular ke manusia, penyakit yang ditularkan anjing ke manusia

Ilustasi anjing terkena rabies – via : bandilyo.com

Penyakit neurologis ini dipandang begitu berbahaya, sebab mematikan. Penyebarannya melalui gigitan hewan yang terinfeksi. Sehingga pemilik hewan peliharaan, terutama anjing, mesti melakukan vaksinasi rabies. Penyebarannya melalui goresan, gigitan, kontak dengan air liur, sistem saraf atau jaringan otak.

Anjing rabies biasanya mengalami kelumpuhan progresif dan perilakunya berubah secara tiba-tiba. Mereka tampak terengah-engah, gelisah, dan nafsu makannya buru. Mereka juga bisa tiba-tiba menyerang manusia, benda-benda, atau hewan di sekitarnya. Beberapa hari setelahnya, biasanya anjing rabies akan mati.

Manusia yang terkena penyakit ini biasanya memunculkan gejala berbulan-bulan pasca terpapar rabies. Penanganannya sering terlembat. Sehingga anda mesti waspada ketika terkena gigitan hewan. Pastikan untuk segera mencuci luka dan melaporkan kejadian tersebut pada tim medis.

Baca Juga:   Tentang Anjing Siberian Husky dan Perawatannya

13. Ringworm (Microsporum gypseum, Microsporum canis)

Infeksi kurap ini hadir karena jamur yang mengganggu rambut, kulit, atau kuku. Penyebarannya melalui sentuhan dengan orang atau hewan yang terinfeksi kurap. Anda juga mungkin terkena infeksi ini setelah melakukan kontak dengan handuk atau selimut hewan yang terkontaminasi.

Anjing kurap akan menderita bercak botak, rambut rusak, dan bersisik. Kulitnya mengeluarkan benjolan seperti jerawat. Biasanya terdapat pada area ujung telinga, ekor, wajah, dan kaki. Manusia kurap juga menderita kulit kemerahan, berkerak, dan ruam. Kulit kepala yang terkena kurap bisa saja mengalami infeksi atau kerontokan. Sedangkan kukunya yang terinfeksi bisa menebal, berubah warna, atau hancur.

14. Roundworm (Toxocara spp.)

Cacing gelang mendatangkan infeksi bernama toksocariasis. Parasit internal ini paling sering bersarang di dalam usus anjing. Hewan ini pun akan menumpahkan telur cacing gelang pada kotorannya. Sehingga anjing lain dan manusia bisa terkontaminasi dengan kotoran tersebut.

Anak anjing yang terinfeksi biasanya tidak mengalami tumbuh kembang yang baik, bulunya kusam, dan perutnya seperti buncit. Anjing yang terinfeksi juga bisa menderita diare dan batuk-batuk.

Cacing gelang pada manusia ada dua jenis. Ada Toxocariasis okular yang menyebabkan peradangan mata, kerusakan retina, dan sampai kehilangan penglihatan. Sedangkan Toxocariasis visceral menyebabkan kelelahan, demam, sakit perut, batuk, dan sesak napas atau mengi.

15. Salmonellosis (Salmonella spp.)

Penyakit ini muncul karena bakteri Salmonella. Umumnya tersebar melalui makanan yang terkontaminasi dan hidup dalam usus hewan atau manusia. Anjing yang terkena bakteri ini biasanya mengalami diare, demam, muntah, kehilangan nafsu makan, dan tampak tidak aktif seperti biasanya. Sedangkan manusia yang terinfeksi bisa demam, diare, dan kram perut. Jika kondisinya parah, penderita mungkin harus dirawat di rumah sakit.

16. Sarcoptic Mange/ Mange (Sarcoptes scabeii)

Sarcoptic mange atau kudis merupakan penyakit kulit yang muncul akibat tungau kecil. Biasanya tersebar karena adanya kontak langsung. Anning yang terkena kudis bisa mengalami gatal-gatal parah, luka karena garukan, dan rambut rontok. Luka biasanya terdapat pada area wajah, telinga, dan kaki. Sedangkan kudis pada manusia bisa menyebabkan iritasi kulit ringan.

17. Tickborne Diseases

Infeksi ini memang rawan menerap hewan peliharaan. Termasuk penyakit Lyme, babesiosis, tularemia, ehrlichiosis, dll. Anda mesti konsultasi dengan dokter hewan terkait produk yang sesuai dengan hewan peliharaan agar serang kutu bisa dihindari. Kumannya menyebar melalui gigitan kutu yang terinfeksi.

Anjing yang terkena penyakit ini menunjukkan gejala yang tergantung variasi jenis infeksi. Ehrlichiosis/anaplasmosis bisa menyebabkan demam, energi berkurang, nafsu makan berkurang, berat badan berkurang, muntah, dan pendarahan pada anjing, seperti mimisan. Penyakit Lyme bisa membuat penderitanya kehilangan nafsu makan, demam, dan adanya pergeseran ketimpangan kaki.

Sedangkan pada manusia, penyakit ini memiliki tanda-tanda berupa demam, sakit tubuh, kedinginan, dan kadang-kadang timbul ruam. Beberapa penyakit ini bahkan bisa berakibat fatal, karena bisa menyebabkan kematian. Anda pun harus gerak cepat jika mencurigai adanya gigitan kutu. Penyakit anjing yang menular ke manusia. #RD

error: