25 Jenis Penyakit Ayam dan Obatnya

daftarhewan.com. Penyakit pada ayam akan menjadi risiko besar bagi para peternak. Baik skala industri maupun rumahan, ayam yang sakit dapat menimbulkan kerugian, dari segi materi hingga nonmateri.

Terlebih, jika penyakit tersebut dapat menular dan berakibat fatal. Pengetahuan dan pengalaman peternak akan menjadi modal utama untuk tetap bertahan.

Namun, tenang saja. Menggali informasi tentang beragam penyakit pada ayam, juga akan memberi Anda kekuatan tambahan untuk menghadapi kondisi yang tidak ideal.

Jenis Penyakit Ayam: Penyebab dan Cara Mengobatinya

Yuk, kenali 25 jenis penyakit yang dapat menjangkiti ayam, beserta gejala hingga cara mengatasinya.

1. Aspergillosis

penyebab ayam broiler lemas, penyakit ayam pedaging, jenis penyakit ayam broiler dan pengobatannya, penyebab ayam broiler cekrek, jenis penyakit ayam broiler, penyakit ayam potong, macam macam penyakit ayam broiler, jenis penyakit pada ayam broiler, Aspergillosis

Penyakit aspergillosis dapat terjadi karena ayam menghirup spora jamur Aspergillus fumigatus pada pakan atau alas kandang yang terkontaminasi. Meski lebih sering terjadi pada ayam liar, penyakit ini juga dapat menjangkiri ayam pedaging dan petelur di peternakan.

Pada ayam muda (1-3 pekan), aspergillosis bersifat akut dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Sementara itu, pada ayam dewasa, penyakit ini cenderung kronis, dan dapat menurunkan hasil  produksi.

Gejala yang umum terjadi, yaitu gangguan sistem pernapasan yang membuat ayam sulit bernapas, serta lendir pada trakea. Ada pula lesi pada saluran pernapasan dengan ukuran yang bervariasi antara 1-9 mm, berwarna putih hingga kuning. Selain itu, terdapat granuloma di otak, mata, dan organ dalam, serta infeksi mata yang membuat mata berair dan radang pada bagian conjuctiiva.

Ketika ayam mengalami aspergillosis, maka peternak harus segera menyingkirkan paparan spora dan memisahkan ayam yang terjangkit. Berikan antifungal, seperti nyastatin, miconazole, itraconazol, serta ketoconazole. Tindakan tambahan juga dapat dilakukan melalui pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dari bakteri.

Untuk mencegah penyakit ini, peternak perlu melakukan desinfeksi kandang, serta membersihkan peralatan, ventilasi, dan saluran udara secara rutin. Selain itu, simpan telur tetas di tempat yang bebas debu dan kurangi kondensasi air pada telur.

Di sisi lain, pastikan pakan dan alas kandang terhindar dari debu dan jamur. Simpan pakan di area dengan kelembaban ideal, dengan alas palet, dan tidak menempel pada dinding.

2. Botulisme

Jenis penyakit ayam, ayam mati mendadak, Botulisme, Macam-macam penyakit ayam

Botulisme merupakan kondisi keracunan akut, ketika ayam mengonsumsi pakan atau suatu objek yang mengandung eksotoksin (neurotoksin) dari bakteri Clostridium botulium. Meski umumnya kondisi ini dialami oleh ayam liar yang hidup di alam bebas, namun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pula pada ayam peliharaan atau peternakan.

Gelaja awal yang perlu Anda waspadai umumnya berupa tremor. Setelah itu, ayam akan mengalami paralisis, sehingga tampak malas bergerak, lemas, dan lentur pada beberapa bagian tubuh. Di sisi lain, ayam juga berpotensi diare. Bulu-bulu ayam pun tampak terbuka dan mudah rontok.

Sementara itu, dalam kondisi akut, ayam bisa mengalami gagal jantung dan gangguan pernapasan, yang berimplikasi pada kematian. Dalam kasus berat, mortalitas bahkan bisa mencapai 40% pada ayam broiler mati mendadak.

Untuk mengatasi botulisme, terdapat antitoksin yang bisa Anda gunakan atas saran dari dokter hewan. Namun, solusi tersebut dapat memakan banyak biaya. Akan lebih baik, Anda melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga sanitasi kandang, dan memastikan tidak ada celah bagi bakteri yang merugikan dapat berkembang.

3. Bubul

Penyakit bubul terjadi karena infeksi bakteri staphylococcus, melalui luka atau gangguan pada kaki ayam yang tidak segera mendapatkan penanganan. Gejala awal penyakit bubul ditandai dengan telapak kaki ayam yang membengkak dan terasa panas ketika disentuh, mirip penyakit hock burn. Lambat laun, kaki ayam bisa menguarkan bau busuk, yang berujung ayam menjadi lumpuh atau kecacatan permanen.

Agar ayam-ayam di peternakan dapat terhindar dari penyakit bubul, pastikan ayam segera mendapat pengobatan jika mengalami luka atau masalah pada kakinya. Anda juga perlu memastikan kualitas dan keamanan alas kandang untuk melindungi kesehatan kaki ayam.

Untuk mengobati ayam yang mengalami penyakit ini, lakukan karantina dan berikan antibiotik secara berkala, dengan tambahan vitamin B kompleks.

penyakit kaki ayam, cara mengobati penyakit bubul pada kaki ayam, penyakit pada kaki ayam, penyakit mata ayam di kaki, penyakit kaki ayam bengkak, penyakit ayam kaki lemas, penyakit kaki ayam merah, penyakit kaki ayam lumpuh, macam macam penyakit kaki ayam, penyakit pada kaki ayam aduan, penyakit kaki kering pada ayam

4. Bumblefoot

Bumblefoot atau ada yang menyebutnya adalah kondisi umum di antara unggas yang biasanya diperumit oleh infeksi bakteri sekunder, terutama spesies Staphylococcus.

Jika salah satu ayam Anda mengalami bumblefoot, itu bisa disebabkan oleh nekrosis tekanan (di mana tekanan membatasi aliran darah, menyebabkan jaringan kulit mati) dari pijakan yang tidak tepat, trauma, dan postur serta bantalan beban yang tidak normal.

Efek nekrosis tekanan sangat penting jika ayam mengalami obesitas karena hal ini meningkatkan kompresi struktur jaringan lunak di kaki mereka.

Awalnya, tanda-tanda yang tidak begitu parah termasuk kemerahan pada kaki diikuti oleh pembengkakan, nyeri, dan pada kasus yang parah, hilangnya fungsi.

Tergantung pada tingkat ayam Anda terpengaruh, perawatan berkisar dari rendam kaki dan perban pereda tekanan hingga operasi.

Pencegahan memerlukan waktu yang cukup panjang dalam hal bumblefoot dan termasuk makanan yang tepat, pijakan dan tempat bertengger yang tepat, dan drainase kandang ayam yang baik untuk menghindari tanah yang basah atau berlumpur.

5. Flu burung

penyakit flu burung, penyakit flu burung ditularkan melalui, cara mencegah penyakit flu burung adalah, penyakit flu burung disebabkan oleh, apakah penyakit flu burung menular, penyebab penyakit flu burung pada unggas dan manusia adalah, penyebab penyakit flu burung, bagaimana akibat dari penyakit flu burung jika menular kepada manusia, gejala penyakit flu burung

Sempat merebak di Indonesia pada awal tahun 2007, flu burung atau avian influenza (AI) disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H5N1 dari family Orthomyxoviridae. Penyakit ini cukup mengkhawatirkan, karena dapat menular dari unggas ke unggas dan dari unggas ke manusia.

Baca Juga:   Kambing Saanen, Karakteristik dan Keunggulannya

Gejala pada ayam yang terjangkit virus flu burung, antara lain: jengger dan pial bengkak kebiruan, bintik-bintik merah pada kaki, gangguan saluran pernapasan, cairan dari mulut, diare, cangkang telur lembek, serta  penurunan produktivitas, dengan tingkat kematian bisa mencapai 100% hanya dalam waktu 2-7 hari.

Penularan flu burung dapat melalui beragam medium, mulai dari kotoran, sarana transportasi, pakan dan minuman, peralatan kandang, petugas, hingga bangkai. Namun, peternak dapat melaksanakan prinsip-prinsip dasar dalam mengendalikan pesebaran virus ini, antara lain: mencegah kontak dengan hewan yang terpapar, melakukan dekontaminasi/disinfeksi, vaksinasi, menyingkirkan sumber penularan virus, dan meningkatkan biosekuritas.

6. Gumboro

penyakit gumboro, penyakit gumboro pada ayam, tanda2 penyakit gumboro, penyakit gumboro pada ayam broiler, obat penyakit gumboro pada ayam, penyakit gumboro adalah, ciri penyakit gumboro pada ayam, ciri ciri penyakit gumboro, gejala penyakit gumboro, pencegahan penyakit gumboro, apa itu penyakit gumboro pada ayam

Penyakit gumboro atau infectious bursal disease (IBD) disebabkan oleh virus dari famili Birnaviridae. Gejala klinis yang tampak pada ayam, antara lain: lesu, sayap yang lunglai, dan kotoran pada kloaka. Ayam juga dapat mengalami hambatan pertumbuhan dan imunosupresi atau penurunan daya tahan tubuh, sehingga ayam menjadi rentan terhadap penyakit lainnya.

Untuk menghentikan kasus penyakit ini, berikan vaksinasi secara tepat dan lakukan disinfeksi pada kandang,  petugas, peralatan, hingga kendaraan yang melintas antar-kandang.

7. Infectious bronchitis (IB)

jenis penyakit ayam, jenis penyakit ayam dan obatnya, jenis jenis penyakit ayam, jenis penyakit pada ayam, jenis penyakit ayam broiler, jenis penyakit ayam broiler dan pengobatannya, macam macam penyakit ayam broiler, jenis penyakit ayam dan cara mengobatinya, jenis jenis penyakit pada ayam, Infectious bronchitis (IB)

Coronavirus dari famili Coronavidae dapat menyebabkan penyakit infectious bronchitis (IB) pada ayam. Gejala umum yang muncul berupa gangguan pernapasan dan penurunan hasil produksi, dengan pengambilan diagnosa melalui pemeriksaan laboratorium.

Penyakit IB dapat dicegah dengan menjaga sanitasi dan pemberian vaksin. Sementara itu, bagi ayam yang telah terjangkit, berikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder, vaksinasi dengan interval yang tepat, serta suplemen atau multivitamin yang dapat mengembalikan stamina dan produktivitas ayam.

8. Infectious laryngotracheitis (ILT)

penyakit ayam mata berair, penyakit mata ayam, penyakit mata pada ayam, jenis penyakit mata pada ayam, obat sakit mata ayam tradisional, penyakit ayam mata bengkak, penyakit mata ayam bengkak, cara mengobati penyakit mata pada ayam, penyakit mata pada ayam dan pengobatannya, obat penyakit mata pada ayam

Infectious laryngotracheitis (ILT) disebabkan oleh virus Gallid herpes yang menginfeksi saluran pernapasan. Gejala pada ayam yang mengalami ILT, antara lain: kesulitan bernapas, leher yang terjulur karena sumbatan di trakea, kemerahan pada konjungtiva, serta mata berair.

Untuk menanganinya, pisahkan ayam yang tampak sakit dan kuburkan ayam mati di area yang jauh dari kandang. Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dan multivitamin untuk mempercepat proses penyembuhan. Lakukan pula disinfeksi secara menyeluruh dan batasi lalu-lalang di area kandang.

9. Koksidiosis

Penyakit koksidiosis disebabkan oleh parasit Eimeria sp, yang menginfeksi berbagai area dalam saluran pencernaan unggas. Gejala utama penyakit ini yaitu keberadaan darah dalam feses, berat badan tidak optimal, tingginya FCR (Feed Conversion Ratio), risiko infeksi sekunder, hingga kematian. Koksidiosis juga berpotensi menimbulkan infeksi bakteri Clostridium perfringens yang menyebabkan penyakit NE (Necrotic Enteritis).

Untuk menangani koksidiosis, peternak tidak hanya perlu melakukan pengobatan pada ayam, melainkan juga pembersihan lingkungan, guna menyingkirkan oosista koksidia yang menyebar melalui feses ayam. Sementara itu, pencegahan umumnya dilakukan dengan pemberian amprolium, yang merupakan antioksidia teraman dan tidak mengganggu produksi.

10. Kolera Ayam (pasterurolosis)

Kolera Ayam (pasterurolosis), Daftar penyakit ayam, macam-macam penyakit ayam

Ayam dapat terjangkit kolera unggas karena infeksi bakteri Pasteurella multocida, setelah kontak dengan ayam yang sakit atau karier yang telah sembuh. Penularan juga dapat terjadi melalui pakan, minuman, petugas, peralatan, tanah, hingga hewan pengerat dan unggas liar.

Dengan tingkat mortalitas yang bisa mencapai 60%, Anda perlu waspada terhadap segala gejala klinis pada 3 tipe, yaitu akut, sub-akut, dan kronis. Pada kondisi akut, kematian dapat terjadi dalam selang waktu beberapa jam setelah infeksi. Namun, pada kondisi sub-akut, bisa muncul gejala berupa demam, kerontokan bulu, sekresi berlebih pada hidung dan mulut, produksi telur yang menurun, laju respirasi meningkat, pial dan jengger membiru, dan diare berwarna kehijauan.

Sementara itu, kondisi kronis terjadi apabila ayam dapat bertahan dari infeksi akut. Gejala kolera kronis, antara lain: infeksi lokal, pembengkakan pial, gangguan pernapasan, pincang, leher yang lunglai, hingga depresi.

Pengobatan kolera unggas dengan antibiotik, hanya akan menurunkan tingkat kematian, namun tidak sepenuhnya membebaskan ayam dari penyakit. Untuk menghentikan rantai penyebaran penyakit, perlu dilakukan depopulasi, disinfeksi, hingga pengistirahatan kandang.

Kendati demikian, Anda dapat melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga sanitasi kandang, dan pemberian vaksinasi yang tepat.

11. Kolibasilosis

Penyakit kolibasilosis umumnya terjadi setelah kasus penyakit lain yang menyerang sistem pernapasan pada ayam, sehingga meningkatkan potensi infeksi bakteri Escherichia coli. Kendati demikian, kolibasilosis juga dapat menjangkiti ayam melalui saluran pencernaan, luka pada kulit, saluran reproduksi, hingga kondisi kandang yang tidak ideal.

Gejala yang paling tampak, antara lain: penurunan nafsu makan, berat badan rendah, bulu yang kusam, pertumbuhan terhambat, penurunan hasil produksi, feses berwarna hijau, hingga bulu kotor yang lengket di sekitar anus.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin dan suplemen atau multivitamin yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam, menghidari infeksi pada usus dengan pemberian antibiotik, manajemen lingkungan kandang, serta menjaga suhu kandang tetap ideal.

12. Leucocytozoonosis

Parasit darah Leucocytozoon sp. dari famili Plasmodiidae merupakan entitas yang menyebabkan penyakit leucocytozoonosis. Penyakit ini kerap tertukar dengan malaria unggas, karena berasal dari famili yang sama dan menimbulkan gejala klinis yang tidak jauh berbeda.

Penularan leucocytozoonosis dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat dapat terjadi melalui gigitan serangga pengisap darah, seperti agas, lalat hitam, dan tungau. Siklus kejadian penyakit leucocytozoonosis dapat berulang seiring dengan keberadaan insekta yang terus menggigiti unggas-unggas karier.

Gejala klinis yang timbul, bisa bervariasi, tergantung jenis, umur, dan kondisi kesehatan unggas. Namun, secara umum, penyakit leucocytozoonosis akan berimplikasi pada demam, penurunan nafsu makan, kekusaman bulu, pial dan jengger yang pucat, kehausan, dan depresi. Durasi dan tingkat mortalitas pun bisa berbeda-beda dalam rentang 10-80%.

Baca Juga:   Ayam Cemara yang Berbulu Lidi

Berkaitan dengan cara penularannya, penanganan atau pengendalian yang paling efektif, harus melibatkan penurunan populasi insekta dan burung liar sebagai karier, agar tidak terjadi kasus berulang.

13. Malaria unggas

Malaria unggas merupakan infeksi plasmodium yang bersifat akut dan menyerang eritrosit atau sel darah merah pada berbagai jenis unggas, termasuk ayam. Menimbulkan gejala yang mirip dengan malaria pada manusia, avian malaria atau malaria unggas menyebabkan penurunan nafsu makan, anemia, batuk darah, depresi, sesak napas, penurunan produksi telur, feses berwarna hijau, hingga kelumpuhan yang berujung pada kematian.

Penanganan malaria unggas, dapat dilakukan dengan memisahkan ayam yang tampak sakit dari ayam yang masih sehat. Selanjutnya, berikan antiprotozoa yang mengandung sulfonamid dan multivitamin untuk menjaga stamina ayam.

Kurangi pula kepadatan kandang dengan mengurangi populasi ayam, agar ventilasi lebih optimal dan kandang tidak lembab. Peternak juga perlu menjaga kebersihan dengan disinfeksi kandang dan peralatan setiap hari.

Selain itu, lakukan fogging untuk membasmi nyamuk dan minimalisir area bersarang nyamuk, seperti semak, tumpukan barang, dan genangan air.

14. Marek

penyakit marek, penyakit marek pada ayam, cara mengobati penyakit marek pada ayam, gejala penyakit marek pada ayam, penyakit marek ayam, ciri ciri penyakit marek pada ayam, penyakit marek mempunyai gejala berupa, penyakit marek disebabkan oleh, penyakit mareks, penyebab penyakit marek pada ayam, obat penyakit marek pada ayam, gejala penyakit marek

Secara umum, penyakit marek terjadi pada ayam muda berusia 2-5 bulan dengan tingkat mortalitas mencapai 80%. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus mardivirus yang menyerang sistem syaraf dan limfoid. Penyakit marek sangat merugikan dari segi ekonomi, karena bersifat proliferatif dan dapat mudah menular melalui droplet dan udara.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin yang tepat. Peternak juga dapat membeli anak ayam yang telah mendapat vaksin marek dari perusahaan pembibitan, memberantas insekta yang bisa menjadi karier penyakit sekunder, menjaga sanitasi, dan melakukan disinfeksi secara menyeluruh untuk menyingkirkan virus.

15. Mikotoksikosis

Ketika mengonsumsi pakan atau bahan pakan yang terkontaminasi oleh mikotoksin, ayam dapat mengalami kerusakan hati, gangguan imunitas, penurunan hasil produksi, hingga kematian dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi.

Dalam kondisi akut, terutama pada ayam muda yang kurang dari 1 minggu, akan muncul gejala kesulitan bernapas atau bernapas dengan mulut. Kondisi hati pada ayam yang mati juga membesar, rapuh, dan tampak pucat. Sementara pada kondisi kronis, ayam akan mengalami penurunan nafsu makan, sianosis pada pial dan jengger, serta pertumbuhan yang tidak optimal.

Agar terhindar dari kondisi yang merugikan tersebut, bebaskan peternakan dari mikotoksin dengan melakukan seleksi dalam pengadaan bahan baku dan evaluasi tempat penyimpanan pakan. Lakukan pula fumigasi secara berkala, untuk meminimalisir kerusakan bahan baku pakan akibat serangan serangga yang dapat memicu jamur.

Sementara itu, bagi ayam yang telah mengalami mikotoksikosis, diagnosis yang tepat dan akurat sangat penting untuk memutuskan tindak penanganan yang efektif.

16. Necrotic enteritis (NE)

Dalam kondisi ideal, bakteri Clostridium perfringens yang menjadi penyebab penyakit necrotic enteritis (NE) hidup pada usus buntu ayam dalam kondisi anaerob. Ketika terjadi perubahan yang menyebabkan kondisi anaerob pada saluran pencernaan, bakteri tersebut akan berkembang biak dan menjalar ke saluran pencernaan atas, sembari mengeluarkan toksin. Akibatnya, terjadi kerusakan pada mukosa usus, yang dapat menghambat penyerapan nutrisi, toksemia, kekurangan darah, hingga kematian.

Gejala yang dapat Anda amati pada penyakit NE, antara lain: penurunan nafsu makan, diare, feses kehitaman atau berdarah, pembesaran usus, pembengkakan hati, peningkatan konsumsi air minum, hingga depresi.

Umumnya, pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik jenis amoxcillin, serta multivitamin untuk menjaga imunitas ayam dan mengurangi stres. Selain itu, peternak juga perlu melakukan disinfeksi secara menyeluruh untuk menyingkirkan kotoran atau bakteri pada kandang, yang bisa menyebabkan infeksi sekunder.

17. Ngorok

ayam ngorok, cara mengobati ayam ngorok, ayam ngorok tak kunjung sembuh, mengobati ayam ngorok, antibiotik untuk ayam ngorok, ayam ngorok setelah di adu, amoxicillin untuk ayam ngorok, ayam ngorok dikasih minum, apa penyebab ayam ngorok, ayam ngorok tapi sehat, ayam bangkok ngorok, ayam ngorok dan pilek, ayam flu dan ngorok, ayam bangkok ngorok tak kunjung sembuh, mengobati ayam ngorok yang membandel

Alih-alih penyakit, ngorok merupakan salah satu bentuk gejala dari CRD (Cronic respiratory disease), yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum. Gejala fisik yang dapat timbul, antara lain: lendir pada hidung dan radang selaput mata. Namun, lebih dari itu, CRD juga bersifat imunosupresif yang membuat ayam menjadi rentan terkena penyakit lain.

Ketika ayam terjangkit CRD, cegah penyebaran penyakit melalui karantina. Lakukan pengobatan dengan antibiotik yang cocok untuk Mycoplasma, pemberian multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan jemur ayam setiap pagi untuk memulihkan stamina.

18. Omphalitis

Penyakit omphalitis merupakan infeksi kuning telur melalui pusar (umbilikus), sehingga populer pula dengan sebutan penyakit pusar. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab, yaitu: kontaminasi bakteri sebelum keluar dari induk, kontaminasi dari kendaraan dalam proses transportasi, sanitasi area penetasan yang kurang baik, serta kelembaban yang rendah dalam mesin tetas. Selain itu, ada pula faktor kontaminasi lingkungan kandang, suhu yang tidak tepat, serta ayam yang mengalami stres.

Gejala yang timbul akibat omphalitis, antara lain: area pusar berwarna kehitaman, postur ayam merunduk, lesu, penurunan nafsu makan, dan pertumbuhan tidak optimal. Untuk mengatasinya, pisahkan anak ayam yang sakit, lalu berikan antibiotik.

Sementara itu, pencegahan dapat dilakukan dengan menyediakan lingkungan yang ideal dan memberi perlakuan yang tepat pada setiap tahap kehidupan ayam.

19. Penyakit Jengger Ayam

jengger ayam, gambar penyakit jengger ayam, penyakit jengger ayam, jengger ayam penyakit, penyakit jengger ayam pada wanita, daging tumbuh di miss v seperti jengger ayam, miss v jengger ayam, bentuk miss v jengger ayam, gambar penyakit jengger ayam pada wanita, bentuk jengger ayam, ciri jengger ayam pembunuh, fungsi jengger ayam

Fowlpox atau cacar ayam yang disebut juga penyakit jengger ayam adalah penyakit virus yang menyebar lambat yang mempengaruhi burung dari segala usia.

Penyakit cacar ayam yang juga populer dengan sebutan fowl pox ini, disebabkan oleh virus Avipox dari famili Poxviridae. Penyakit ini dapat menular dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat dengan masuknya virus melalui kulit yang terluka, gigitan serangga, hingga udara ke saluran pernapasan.

Fakta unik : Penyakit ini juga dikenal dikalangan orang-orang yang terkena penyakit kelamin akibat terlalu banyak jajan di luar, baik laki-laki pada penis atau wanita pada miss V. Karena keadaan kulit kelamin yang mirip dengan penyakit ayam ini.

Pada ayam yang terjangkit, terdapat dua bentuk gejala yang bisa timbul, yaitu kering dan basah. Bentuk kering berupa bungkul-bungkul kecil berwarna keabu-abuan dan tampak jelas pada bagian kulit yang tidak berbulu. Bungkul tersebut akan membesar dan pecah, lalu membentuk keropeng. Sementara bentuk basah berupa bungkul putih berukuran kecil pada trakea dan/atau mulut ayam.

Baca Juga:   Ayam Cemani untuk Ritual Penangkal Black Magic?

Meski belum ada obatnya, penanganan cacar ayam dapat dilakukan dengan mengisolasi ayam yang terjangkit untuk mengurangi pesebaran penyakit. Berikan obat oles dan antibiotik sesuai kebutuhan, serta multivitamin untuk mempercepat kesembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam.

Sementara itu, lakukan pencegahan melalui vaksinasi, pada waktu yang tepat, sesuai riwayat di perternakan atau berdasarkan saran dari dokter hewan.

20. Penyakit quail

Bakteri Clostridium colinum menjadi penyebab penyakit quail, yang dapat menyebar dalam bentuk spora melalui kotoran ayam dan unggas lainnya. Pasalnya, bakteri ini kebal terhadap disinfektan, sehingga menjadi ancaman yang cukup signifikan bagi kesehatan ayam di peternakan.

Pada kondisi akut, ayam dapat mengalami kematian mendadak. Namun, penyakit ini dapat terdeteksi melalui beberapa gejala, seperti lesu, diare dengan cairan putih, bulu yang berantakan, serta postur tubuh ayam yang menjadi bungkuk. Apabila tidak segera mendapat pengobatan, ayam yang terjangkit dapat mati dengan tubuh yang kurus kering.

Karena itu, apabila Anda menemukan indikasi penyakit quail pada ayam, ada baiknya segera hubungi dokter hewan untuk mendapatkan antibiotik dan penanganan yang tepat.

21. Snot (Pilek Ayam)

obat snot ayam, cara mengobati ayam snot, snot pada ayam, obat snot ayam paling ampuh, obat ayam snot paling ampuh, obat snot ayam di apotik, cara mengobati snot pada ayam, anti snot ayam, obat ayam snot tradisional, bawang putih untuk ayam snot, Snot (Pilek Ayam)

Bakteri Hemophilus gallinarum dapat mengancam ayam peliharaan Anda dengan penyakit pilek, atau disebut pula snot atau coryza, yang bisa menular melalui kontak langsung maupun tidak langsung, seperti udara, air, dan tanah.

Gejala yang dapat teramati, antara lain: cairan pada mata, lesu, lendir dan kerak pada hidung, kesulitan bernapas, serta penurunan nafsu makan, sehingga berimplikasi pula pada pertumbuhan yang tidak optimal.

Untuk mengobati ayam yang terjangkit pilek, berikan prefarat sulfat, seperti sulfadimethoxine atau sulfathiazole. Kombinasikan pula dengan tetrasiklin pada air minum atau melalui suntikan. Namun, berhati-hatilah dalam menggunakan obat ini untuk ayam petelur, karena dapat memengaruhi kualitas dan kandungan telur yang dihasilkan.

22. Pullorum

Infeksi bakteri Salmonella pullorum ini populer pula dengan sebutan penyakit pullorum atau berak kapur. Nama tersebut merujuk pada salah satu dari beberapa gejala yang muncul, yaitu: penurunan nafsu makan, feses bercampur butiran putih seperti kapur, bulu anus lengket dan kotor, jengger keabuan, postur tubuh ayam merunduk, sayap lunglai, dan mata menutup.

Hanya saja, gejala-gejala tersebut umumnya terjadi pada anak ayam. Sementara pada ayam dewasa, gejala pullorum kerap berupa penurunan produktivitas, anemia, feses kuning encer, dan depresi.

Tindakan pencegahan yang dapat peternak lakukan, yaitu menjaga sanitasi lingkungan mulai dari area penetasan hingga kandang. Disinfeksi kandang juga penting dengan menggunakan formaldehyde 40%.

Pisahkan ayam yang terkena penyakit, dan beri suntikan antibiotik seperti furozolidon, neo terramycin, atau mycomas pada bagian dada. Untuk menghindari penularan dan mengurangi beban perawatan, umumnya peternak juga akan menyingkirkan ayam yang sekiranya tidak dapat diselamatkan.

23. Salpingitis

Salpingitis (radang saluran tempat keluarnya telur) mempunyai banyak penyebab, beberapa di antaranya tidak melibatkan bakteri. Namun, jika terlibat, biasanya adalah bakteri E. coli.

Salpingitis sering terjadi pada ayam yang lebih tua dan yang terkena mungkin menunjukkan tanda-tanda penurunan produksi telur, perut buncit, dan kesulitan berjalan.

Ayam yang terjangkit tidak dapat menyebarkan penyakit ini satu sama lain karena sebagian besar disebabkan oleh perubahan sistem reproduksi mereka yang berkaitan dengan usia.

Anda tetap dapat mengobati burung Anda dengan antibiotik jika mereka terinfeksi. Ayam Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeluarkan tabungnya untuk menyelesaikan masalah ini sepenuhnya.

24. Sariawan

Sariawan pada ayam ditandai dengan munculnya bintil di area mulut akibat infeksi jamur Cancida albicans yang mengontaminasi pakan.

Penyakit ini kerap menjangkiti ayam yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, mendapat antibiotik berkepanjangan, infeksi sekunder oleh bakteri atau virus, maupun kekurangan vitamin A.

Peternak dapat menanganinya dengan pemberian nistatin atau tembaga sulfat pada pakan selama 7-10 hari.

25. Tetelo

ayam katelo, ayam tetelo, obat ayam tetelo, cara mengobati ayam tetelo, obat tetelo paling ampuh ayam, penyakit ayam tetelo, mengobati ayam tetelo, obat ayam tetelo ampuh, ayam tetelo apa bisa sembuh, obat ayam sakit tetelo, ayam sembuh dari tetelo, cara menyembuhkan ayam tetelo

Virus Newcastel Disease (ND) menjadi penyebab penyakit tetelo yang dapat menjangkiti ayam, dan berbagai jenis unggas lainnya. Penyakit menular akut ini akan menimbulkan gangguan pada pernafasan, percernaan, hingga syaraf, dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi.

Gejala yang muncul, antara lain: keluarnya cairan dari hidung, jengger pucat, mata keruh, ayam menjadi lesu, kelumpuhan sayap dan kaki, hingga leher tampak terkulai. Kondisi tersebut umumnya berlangsung selama dua sampai tiga hari, hingga akhirnya ayam tersebut mati.

Untuk  mencegah penyakit tetelo, jaga imunitas ternak melalui vaksinasi. Cermati pula praktik tata laksana pemeliharaan yang baik, disinfeksi, sanitasi kandang, sirkulasi udara dan paparan sinar matahari, pakan yang bergizi, hingga pemantauan kondisi ternak secara rutin.

Bagi ayam yang sudah terjangkit, lakukan pengobatan dengan pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder, dan multivitamin melalui air minum untuk memulihkan stamina ayam.


Selain dari 25 penyakit diatas, ayam juga sering terkena cacingan yang disebabkan oleh berbagai macam jenis cacing yang dapat menyebabkan ayam mencret.

Pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan, penggantian alas kandang jika terasa sudah becek dan berbau serta hindari overcrowding atau terlalu banyak populasi dalam satu kandang.

Pengobatannya adalah dengan berbagai macam obat cacing untuk unggas, khususnya untuk ayam.

error: