5 Jenis Budidaya Tambak Udang di Indonesia

Posted on

daftarhewan.com. Tambak Udang. Pengembangan tambak udang bisa dibedakan dua macam, yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi.

Ekstensifikasi dilakukan dengan pecetakan-pecetakan lahan baru, sehingga luas tambak bertambah besar. Intensifikasi diusahakan dengan meningkatkan produksi dari tambak-tambak yang sudah ada lewat penerapan teknologi budidaya.

Tambak udang, Jenis tambak udang, macam tambak udang, pola pemeliharaan tambak udang, cara tambak udang

Upaya Meningkatan Produksi

Peningkatan produksi udang tambak lewat teknologi itu lebih dikenal dengan sebutan proyek Intam atau Intensifikasi Tambak. Intensifikasi tambak dilakukan dengan menerapkan Sapta Usaha.

Sapta Usaha itu bertujuan meningkatkan teknologi budidaya udang tambak dari pola sederhana (tradisional) menuju pola madya (semi intensif) hingga maju (intensif).

Pola sederhana, pengelolaannya tergantung alam. Pemilik tambak hanya menebarkan bibit saja, sedang proses selanjutnya tergantung alam. Pemeliharaan udangnya sering dicampur dengan ikan, misal polikultur antara udang dengan bandeng.

Pola madya, dalam pengelolaan tambaknya sudah ada campur tangan manusia tapi sebagian besar masih tergantung alam. Misalnya pengairan tambak masih tergantung pasang surut air laut.

Sedang pemeliharaan udang sudah dilakukan secara monokultur. Pada pola maju, pengelolaan tambak sepenuhnya dikendalikan manusia, dengan sistem monokultur. Penebaran padat, dan penenaman serta pemanenan tidak tergantung musim. Proses budidaya tidak tergantung alam.

5 Pola Budidaya Tambak Udang

1. Tambak Tradisional

Tambak tradisional dikelola dengan pola sederhana. Luas dan bentuk tambak tidak beraturan, tapi masih ada usaha penguatan tanggul, penyediaan care atau hamparan pelataran. Kedalaman air 60 – 80 cm, dengan dasar tambak berlumpur.

Tidak dibutuhkan pompa dan kincir, serta pergantian air mengandalkan pasang surut air laut. Penebaran benur rendah, Cuma 2 – 3 ekor per m2. Lama pemeliharaan 5-6 bulan.

Baca Juga:   7 Penyakit Udang Tambak dan Cara Mengatasinya

Pakan udang tergantung dari jasad renik yang terdapat di tambak sebagai pakan alami udang. Untuk menyuburkan pakan alami, petambak memumpuk tambaknya dengan urea, TSP, dan pupuk organik. Pemberian pakan pabrik hanya dilakukan 15 – 30 hari sebelum panen.

Hasil panen 150 – 175 kg per hektar atau daya dukung lahan 15 – 17,5 gram per m2. Daya guna lahan satu kali pertahun. Cara pemeliharaan udang sering tumpangsari dengan ikan lain, misalnya polikultur antara udang dengan ikan bandeng.

2. Tradisional Plus

Pada pola ini petambak telah mengeringkan dan mengapur tambak, sebelum benar ditebar untuk pembesaran udang. Dalam pengairan tambak, telah digunakan pompa untuk mengatur pergantian dan pengisian air. Kedalaman air 80 – 100 cm. Penebaran benih 5 – 6 ekor per m2.

Pemberian pakan pabrik sudah dimulai sejak penebaran benur. Hasil panen bisa mencapai 650 – 800 kg per hektar atau kemampuan daya dukung lahan 65 – 80 gram per m2. Cara pemeliharaan udangnya monokultur, dan daya guna lahan dua kali setahun. Pola tradisional plus ini bisa dikatakan sebagai pola semi intensif dengan persyaratan paling minim.

3. Semi Intensif

Desain dan kontruksi tambak berdasarkan titik ideal elevasi permukaan laut sudah diperhitungkan. Sarana tambak dilengkapi pompa, untuk memasukkan atau mengeluarkan air serta kincir air satu sampai dua buah jika luasnya 0,5 ha per petak.

Dasar tambak itu kompak. Kedalaman air 100 – 120 cm. Penebaran benur 15 – 20 ekor per m2. Sejak benih udang ditebar, sudah mulai digunakan pakan buatan sebagai ransumnya. Dan selama pemeliharaan kontrol pakan dan kualitas air menjadi prioritas utama.

Baca Juga:   Fungsi Zeolit untuk Tambak Udang Intensif

Lama pemeliharaan udang sampai mendapatkan size 30 atau 30 ekor per kg berlangsung selama 4 bulan. Hasil panennya per hektar 1.750 – 2.500 kg atau kemampuan daya dukung lahan 175 – 250 gram per meter persegi.Daya guna lahan tersebut dua kali setahun.

zeolit tambak udang, zeolit untuk tambak udang, zeolit itu apa, zeolit aquarium, zeolit untuk tambak udang, fungsi zeolit untuk tambak udang, mineral tambak udang

Di petani, luas tambak bisa berkisar 1 – 3 ha per petak, namun menurut guru besar IPB, tambak seluas itu tidak efektif pengelolaannya. Luas petak sebaiknya 0,25 ha per petak, karena akan memudahkan pengawasan dan pergantian airnya.

4. Intensif

Desain tata letak tambak ini sangat diutamakan, dan ada tandon untuk persediaan air. Kebutuhan pompa dan kincir air pun telah dihitung sesuai kebutuhan serta dilengkapi cadangannya. Pengolahan serta persiapan tambak dilakukan sempurna. Kedalaman air tambak 130 – 150 cm. Penebaran benur 30 ekor per m2, dan lama pemeliharaan untuk mencapai size 30 berlangsung 4 bulan. Hasilnya 6.000 – 8.000 kg per hektar atau daya dukung lahan 600 – 800 gram per m2. Daya guna lahan tersebut 2 kali setahun.

Luas tambak pola intensif yang banyak digunakan di Indonesia 0,5 ha per petak. Menurut pakar budidaya udang, tambak seluas itu kurang efektif pengelolaannya kalau hanya ditangani oleh satu orang tenaga kerja, karena sangat merepotkan pergantian airnya. Luas yang tepat sekitar 300 – 500 m2 per petak. Agar mudah diawasi dan tidak sulit dikelola.

5. Super Intensif

Pola budidaya udang tambak super intensif sebenarnya merupakan peningkatan teknologi budidaya udang pola intensif. Biaya produksinya tinggi sekali, karena modal untuk membeli peralatannya juga mahal.

Desain tambak sangat diutamakan, sehingga aliran air meluncur setiap saat sesuai keinginan dengan sistem gravitasi. Tata letak tambak, jumlah dan tipe kincir yang digunakan pun harus diperhatikan. Ukuran tandon mencapai 30 % dari total luas tambak.

Baca Juga:   Menjaga Kualitas Warna Air Tambak yang Baik

Kedalaman air 150 – 200 cm. Parameter kualitas air di dalam tandon untuk menyplai isi tambak harus terjaga terus menerus. Konstruksi pintu air memenuhi persyaratan agar bisa dilakukan panen kontinyu atau berulang. Penebaran benur 50 – 80 ekor per m2.

Panen udang dengan sistem ini bisa mencapai 10 – 12 ton per ha, yakni panen pertama sebanyak 5 ton dengan size 50 pada umur 3 bulan, dan panen kedua 5 – 7 ton per hektar pada umur 5 – 6 bulan. Pengulangan panen bertujuan meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan daya dukung lahan. Daya guna lahan 1,5 kali setahun.

Panen tambak udang, Panen udang

Teknologi dan manajemen budidayanya harus diterapkan sempurna, sebab kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal bagi udang yang dipelihara.

Pemeliharaan udang windu atau udang vaname secara intensif dan super intensif adalah pemeliharaan yang berorientasi pada produksi. Dalam hal ini petambak harus mengetahui dengan pasti daya dukung lahan, fasilitas peralatan yang dimilikinya, dan kemampuan karyawannya sebagai tenaga kerja.

Namun di lapangan, masih banyak petambak yang rancu pengertiannya tentang kemampuan daya dukung untuk tambak yang dikelola intensif dan super intensif. Karena tidak mengerti secara benar batasan budidaya udang semi intensif, intensif dan super intensif, banyak petambak yang mengakhiri budidaya udang dengan kegagalan. (DBS)