Transfer Embrio adalah? Ini yang Terjadi pada Sapi!

Posted on

daftarhewan.com. Teknik Transfer Embrio (TE) mampu menghasilkan 12-15 ekor anak sapi per tahun dari seekor induk yang disuperovulasikan. Jauh bedanya dengan cara inseminasi buatan (IB) yang biasanya hanya memproduksi satu ekor sapi pedet per tahun.

Transfer Embrio

Transfer embrio adalah teknik reproduksi dengan cara memindahkan embrio dari induk sapi betina ke betina lain. Selain bisa memproduksi sapi dalam jumlah banyak, teknik inipun sanggup meningkatkan genetik dalam waktu singkat.

transfer embrio, transfer embrio adalah, transfer embrio pada sapi, transfer embrio sapi, apa itu transfer embrio, transfer embrio pada ternak, makalah transfer embrio transfer embrio pdf, embrio transfer pada sapi, kapan embrio transfer dilakukan
Ilustrasi transfer embrio – via : fwi.co.uk

Melalui IB, hanya pejantan yang biasanya diperhatikan kualitasnya, dan untuk memperoleh kualitas yang sama mungkin diperlukan 4-5 generasi (15-20 tahun).

Sementara dengan TE, pedet yang berkualitas sama dengan induknya diperoleh pada generasi pertama. Itu terjadi lantaran TE memberi peluang kawinnya sapi yang kedua induknya bermutu genetik tinggi.

Baca Juga:   100 Gambar Sapi Lucu, Animasi Bergerak, Bikin Ngakak!

Dalam kondisi biasa, seekor induk betina setahun hanya mengeluarkan satu sel telur. Artinya, per tahun sapi betina hanya menghasilkan satu ekor pedet. Melalui superovulasi, jumlah itu bisa ditingkatkan.

Ternak sapi yang diperbanyak jumlah sel telurnya disebut donor. Donor dikawinkan dengan pejantan. Embrio yang terbentuk kemudian dipindahkan (ditransfer) ke beberapa sapi betina (resipien). Resipien inilah yang kelak melahirkan pedet.

Dalam setahun, seekor induk betina bisa tiga kali disuperovulasikan. Jika sekali transfer menghasilkan 4-5 ekor pedet, berarti per tahun seekor induk betina memproduksi 12-15 pedet.

1. Seleksi Donor dan Resipien

Langkah pertama TE ialah memilih donor dan resipien. Donor yang baik tentu saja harus sehat, memiliki kemampuan reproduksi dan mudah dijual. Salah satu dokter dari IPB merekomendasikan sapi donor berusia lebih dari lima tahun dan bentuk fisiknya bagus.

Baca Juga:   12 Jenis Sapi Potong Unggulan yang Ada di Indonesia

Resipien yang ideal bila umurnya masih muda, bebas penyakit, kesuburannya terjamin dan mempunyai kemampuan membesarkan anak. Sapi di atas 10 tahun sebaiknya tidak dipakai karena daya tahan selama bunting sudah menurun.

2. Penentuan Masa Birahi

Penentuan masa birahi normal donor dan resipien menjadi faktor penentu keberhasilan TE. Perkiraan masa birahi menjadi patokan dimulainya proses superovulasi. Pengamatan masa birahi dilakukan minimal dua bulan. Fase atau periode birahi berlangsung 15 – 18 jam.

transfer embrio beku, biaya transfer embrio sapi, proses transfer embrio ternak, transfer embrio pada ternak adalah, transfer embrio segar jurnal, operasi transfer embrio, makalah transfer embrio pada sapi pdf, manfaat transfer embrio
Proses transfer embrio

3. Superovulasi

Setelah mengetahui masa birahi normal, 9-12 hari kemudian induk betina disuntik hormon gonadotropin dan PMSG (Pregnant Mare Serum Gonodotropin). Kedua hormon itu bisa dibeli di toko sarana peternakan yang terpercaya.

Tujuan pemberian hormon ini supaya sel telurnya banyak, selang dua hari kemudian induk diberi hormon PGF2 (Prostaglandin F. Dua Afla). Dua hari setelah suntukan PGF2, masa birahi sapi timbul lagi. Bedanya, pada birahi buatan ini jumlah sel telurnya sudah banyak.

Baca Juga:   3 Jenis Sapi Potong Lokal Asli Indonesia

Dua belas jam setelah masa birahi, sapi dikawinkan. Tanda waktu kawin ialah sapi tidak meronta jika dinaiki. Perkawinan dilakukan dua kali. Pertama waktu gejala diam timbul. Perkawinan kedua, 12 jam setelah perkawinan pertama. Agar semua sel telur terbuahi. Teknik mengawinkannya dengan IB. Caranya semen beki dari ampul ataupun jerami plastik dicairkan dengan air hanyat 35oC selama 30 detik.

4. Panen Embrio

Tujuh hari setelah perkawinan pertama embrio sudah bisa dipanen. Sapi donor yang akan diambil embrionya ditempatkan di kandang sempit. Bagian depan kandang ditinggikan dengan papan atau tumpukan jerami. Ujung ekor diikat ke atas. Bagian belakang dan alat kelaminnya dibersihkan dengan sabun.

manfaat transfer embrio pada sapi, transfer embrio pada ternak sapi, transfer embrio pada sapi pdf, jurnal transfer embrio, cara transfer embrio pada sapi, perbedaan transfer embrio dan inseminasi buatan
Ilustrasi panen embrio – gambar dari : SVS Repro Stateline Veterinary Service

Ternak diberi penenang 10 cc vombelen. Kemudian embrio yang ada di tanduk rahim dikeluarkan dengan cairan pembilas PBS ditambah methal kalserum 1 % memakai kateter. Kateter yang mempunyai dua saluran dimasukkan ke uterus. Salah satu ujungnya dipegang di dalam rektum (saluran keluarnya kotoran). Ujung yang lain dihubungkan dengan alat panghisap vakum.

Cairan pembilas disemprotkan melalui kateter. Embrio terbawa cairan pembilas itu melalui saluran kateter yang lain. Cairan ditampung dan disaring filter sehingga embrio terpisah dari cairan pembilas. Embrio-embrio itu dimasukkan ke medium PBS dan metal kalserum 20 % pada suhu 37oC. Embrio siap ditransfer ke resipien.

Baca Juga:   7 Jenis Sapi Perah Produsen Susu Terbaik di Dunia

5. Transfer Embrio

Untuk memudahkan pemindahan embrio, resipien sebaiknya disatukan dalam satu kandang. Embrio dipindahkan ke uterus resipien dengan kateter logam. Agar bunting, tentu saja, masa birahi resipien disamakan dengan masa birahi donor. Itu bisa dilakukan dengan penyuntikan hormon PGF2.

Embrio ini juga bisa disimpan pada kontainer berisi nitrogen cair dalam suhu -196oC. Ini memungkinkan dibuatnya bank embrio sehingga proses TE jadi lebih sederhana. Di Indonesia saat ini, Teknik transfer embrio pada sapi telah banyak dilakukan untuk memproduksi atau menghasilkan sapi Belgian Blue. (Info Agribisnis)

Comments are closed.